Kamis, 29 September 2011

Mantan Tukang Sapu Ini Menang Pemilu Presiden

Mantan Tukang Sapu Ini Menang Pemilu Presiden

Saya ingin menyapu negeri saya jadi lebih bersih dari stasiun kereta yang pernah saya sapu

Jum'at, 23 September 2011, 12:14 WIB
Renne R.A Kawilarang
Michael Sata (kanan) (Reuters/Mackson Wasamunu)
BERITA TERKAIT

VIVAnews - Pemimpin oposisi Michael Sata dinyatakan menang dalam pemilu presiden Zambia. Ini merupakan pencapaian bersejarah bagi Sata, yang pernah menjadi tukang sapu di suatu stasiun kereta di London, Inggris.

Menurut kantor berita Reuters, 23 September 2011, Mahkamah Agung mensahkan Sata sebagai pemenang pemilu pada Jumat pagi waktu setempat. Dia berhasil mengalahkan presiden Zambia saat ini, Rupiah Banda.

Keunggulan Sata atas Banda relatif tipis. Dari 95,3 persen kertas suara yang telah dihitung, Sata meraih dukungan 1.150.045 suara, sedangkan Banda 961.796.

Sata dikenal pendukungnya dengan julukan Raja Kobra, mengingat dia sangat kritis. Politisi berusia 74 tahun itu terang-terangan menolak dominasi perusahaan-perusahaan tambang asing, terutama dari China, di negaranya.

Dalam suatu kampanye, Sata menyatakan dia bakal membersihkan Zambia dari sampah-sampah korupsi. Dia ingin membersihkan semua kotoran itu segiat saat dia masih menjadi tukang sapu di Stasiun Victoria, London.

"Saya tidak pernah mengeluh apa yang saya kerjakan. Saya ingin menyapu negeri saya, bahkan ingin membuatnya lebih bersih dari yang saya lakukan saat menyapu stasiun kereta Anda," kata Sata suatu ketika kepada wartawan Inggris, yang dikutip harian The Telegraph.

Di masa muda, Sata pernah menimba ilmu politik di London. Namun, untuk memenuhi kebutuhan hidup, dia bekerja sebagai petugas kebersihan untuk perusahaan British Rail. Tidak disebutkan secara jelas berapa lama Sata merantau di Inggris dan di universitas mana dia belajar.

Menurut Voice of America, Sata juga pernah berkarir jadi pengurus serikat dagang dan polisi sebelum masuk ke gelanggang politik di awal dekade 1960an. Ketika masih menjadi koloni Inggris, Zambia saat itu bernama Northern Rhodesia.

Karir Sata di politik pun meningkat. Dia sempat menjadi menteri kesehatan dan menteri tenaga kerja sebelum akhirnya keluar dari partai yang berkuasa dan membentuk partai sendiri bernama Fron Patriotik.

Selain bertekad menegakkan hukum yang bersih, Sata pun berjanji tidak akan minum air kemasan hingga "semua rakyat Zambia punya hak yang sama atas akses air bersih." Janji itu dimuat dalam laman Partai Fron Patriotik yang dipimpin Sata.

Kaya akan tembaga, Zambia masih berstatus negara Afrika yang melarat. Itulah sebabnya Sata terus mengritik Presiden Banda yang selama ini lemah terhadap korupsi.

Sata pun pernah mengancam untuk mengusir para investor China dari tambang-tambang di Zambia setelah muncul kasus para manajer asing itu memperlakukan pekerja lokal dengan semena-mena.

Itulah sebabnya kalangan pengamat politik di Zambia menilai Sata "berbicara apa yang ingin rakyat dengar." Dia pun suka bicara ceplas-ceplos dan sering melontarkan lelucon.

Sementara itu, para pendukung Sata bersuka cita merayakan kemenangan pemimpin mereka di Ibukota Lusaka. Mereka bernyanyi dan bersorak gembira begitu Sata dinyatakan sebagai pemenang pemilu.

• VIVAnews

15 Oktober, Kick Off Liga Super 2011/12

15 Oktober, Kick Off Liga Super 2011/12

Jadwal Kick Off Liga Super musim ini sudah beberapa kali mengalami perubahan.

Kamis, 29 September 2011, 19:05 WIB
Marco Tampubolon

VIVAnews - Setelah beberapa kali mengalami perubahan, PSSI akhirnya menetapkan jadwal kick off Liga Super 2011-12, Sabtu, 15 Oktober 2011. Keputusan ini telah mendapat persetujuan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

PSSI melalui rilisnya kepada wartawan, Rabu, 29 September 2011, menjelaskan bahwa perubahan terpaksa dilakukan karena jadwal kick off sebelumnya berdekatan dengan pertandingan Indonesia lawan Qatar, 11 Oktober 2011. PSSI juga menyatakan kalau perubahan ini sudah disetujui AFC.

Sebelumnya, jadwal kick off Liga Super 2011-12 sudah beberapa kali mengalami perubahan. PSSI awalnya menjadwalkan laga pembuka pada 8 Oktober sebelum akhirnya mundur menjadi 9 Oktober. Namun, lewat rapat komite Exco PSSI, keputusan kembali berubah menjadi 14 Oktober 2011.

Liga Super level tertinggi musim ini akan diikuti oleh 24 tim. Masing-masing berasal dari tim yang berlaga di Liga Super Indonesia (ISL) musim lalu (14 tim), tim promosi (4 tim), dan tim yang ditunjuk langsung oleh PSSI (6 tim).

Keputusan ini masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan klub dan anggota Exco PSSI. Beberapa di antaranya menuding PSSI telah melanggar statuta PSSI dalam menetapkan jumlah peserta Liga Super musim ini.

PSSI membantah tudingan tersebut. PSSI yakin kebijakan yang diterbitkan sudah berjalan di trek yang benar. "Kebijakan ini sama sekali tidak melanggar Statuta PSSI, karena pada Pasal 37 sudah dijelaskan, waktu pelaksanaan dan jumlah tim kompetisi level atas ditentukan rapat Exco," tulis PSSI dalam rilisnya kepada wartawan.

PSSI menjelaskan bahwa awalnya tim-tim yang ingin berlaga di level teratas kompetisi nasional berjumlah 36. Namun, karena terbentur keputusan Kongres di Bali yang mengharuskan kompetisi level tertinggi digelar satu wilayah, maka PSSI pun menguranginya menjadi 24 tim.

Sabtu, 10 September 2011

Timnas Kacau, Salah Siapa?

Fokus

Timnas Kacau, Salah Siapa?

Wim Rijsbergen dinilai Alfred Riedl tidak layak melatih timnas Indonesia.

Sabtu, 10 September 2011, 00:20 WIB
Edwan Ruriansyah

VIVAnews - Disharmonisasi mulai memasuki kamar ganti tim nasional Indonesia. Para pemain melancarkan mosi tidak percaya kepada pelatih timnas, Wim Rijsbergen.

Ini dipicu oleh perkataan pelatih asal Belanda itu yang dinilai terlalu kasar kepada para pemain saat turun minum melawan Bahrain. Sikap tak simpatik Wim ke para pemain ini diungkap oleh mantan pelatin timnas Alfred Riedl.

Alfred yang baru saja bertemu dengan sejumlah pemain menceritakan perlakuan kasar Wim. "F**k you all (kalian semua brengsek). If you don't play better second half i kick all of you out (Jika kalian tak bermain lebih bagus di babak 2, saya akan mendepak kalian semua)," kata Wim saat turun minum melawan Bahrain, seperti ditirukan Alfred.

Padahal, saat itu Timnas baru tertinggal 0-1, dan justru butuh kalimat menyejukkan untuk membangkitkan motivasi.

Riedl yang awalnya mengaku netral, berubah tidak mendukung Wim Rijsbergen. Sejumlah pemain juga mulai hilang respek kepada sang pelatih. Diperparah lagi, saat jumpa pers usai pertandingan melawan Bahrain usai, Wim menuding para pemain tak layak tampil di level internasional. Akibatnya, para pemain tersinggung karena menjadi kambing hitam kekalahan. Kabar terakhir, sekitar 7 pemain mengancam mundur jika pelatihnya tetap pria asal Belanda itu.

PSSI membantah kabar ada perpecahan dalam Timnas. Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin meminta para pemain agar tak menggubris isu perpecahan. Djohar meminta Bambang Pamungkas cs tetap fokus menghadapi Prakualifikasi Piala Dunia 2014.

"Pemain dan pelatih kecewa dengan hasil itu (kalah 2-0 dari Bahrain). Tapi yang penting, pemain harus tetap fokus menghadapi (empat) laga sisa, tanpa gangguan apapun," tutur Djohar.

Sementara itu, Sekjen PSSI, Tri Goestoro menambahkan, evaluasi tidak hanya diperlukan saat tim menderita kekalahan. "Kalau evaluasi tidak harus saat kalah, tapi juga saat menang di mana kita bisa melihat kelebihan kita," imbuhnya.

Mengenai konflik di tubuh timnas, Tri berharap agar pelatih dan pemain bisa lebih mengendalikan emosi. "Masing-masing orang punya karakter, tapi ke depannya harus bisa menahan diri. Yang jelas, kalau berjuang jangan setengah-setengah, tapi harus sampai akhir," tegasnya.

Rabu, 7 September 2011, atau sehari setelah Timnas dikalahkan Bahrain 0-2 dalam laga Prakualifikasi Piala Dunia 2014, para pemain menemui mantan pelatih Alfred Riedl di kawasan Senayan, Jakarta. Tampaknya, mereka butuh nasihat atau minimal figur kebapakan Riedl yang selama setahun terakhir 'memayungi' mereka.

Firman Utina menunjukkan bahwa rekan setimnya butuh figur kebapakan seperti itu. Firman pun menuliskan curahan hatinya lewat akun Twitter, “Saat sekarang kami bagaikan anak ayam yang ditinggal induknya. Tapi harus diingat kita adalah 1 tim yang harus 1 dan tidak bercerai berai,” tulis Firman.

“Seharusnya kita cari solusinya sama "menir,” pungkas pemain 29 tahun itu.

Riedl pun mulai bereaksi keras atas perlakuan Wim kepada mantan anak asuhnya itu. Pria asal Austria yang membangun fondasi permainan Timnas setahun terakhir ini menyayangkan perkataan Wim. Pria 61 tahun ini menganggap pelatih asal Belanda itu tak pantas menangani Tim Merah Putih.

"Ia sangat marah kepada para pemain, bukannya memberikan semangat saat tim baru tertinggal 0-1. Di Eropa, Anda bisa langsung dipecat jika melakukan itu! Atau para pemain akan membalas dengan lebih keras!" ujar Riedl.

"Sejak saat itu, saya tak simpati lagi dan melawan Rijsbergen. Ia tak layak melatih tim nasional Indonesia!"

PSSI Kebakaran Jenggot

Pertemuan antara beberapa pemain Timnas dengan Riedl inilah yang membuat PSSI kebakaran jenggot. PSSI pun meminta Riedl meninggalkan Indonesia.

Penanggungjawab Timnas Indonesia yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Disiplin PSSI, Bernhard Limbong memberikan ultimatum kepada Riedl. Limbong menyayangkan tindakan Riedl yang memanggil beberapa pemain Timnas Indonesia, Rabu 7 September 2011 di Plaza Senayan.

“Saya tak mengerti untuk apa dia (Riedl) memanggil para pemain. Saya tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi, saya ingin Riedl meninggalkan Indonesia dan tidak lagi mencampuri urusan Timnas,” ujar Limbong di kantor PSSI, Jumat 9 September 2011.

Riedl yang saat ini sedang berada di Indonesia, masih memiliki masalah dengan PSSI terkait kompensasi kontrak yang belum dibayarkan. Mengenai hal ini, Riedl sudah melaporkan PSSI ke FIFA pada 12 Agustus lalu.

“Silakan Riedl ke FIFA, urusan Riedl urusan antara dia dengan FIFA. Jangan ganggu PSSI. Untuk apa Riedl datang lagi ke Indonesia kalau masalah ini sudah diserahkan ke FIFA,” jelas Limbong.

“Saya heran mengapa para pemain ngotot ingin ganti pelatih. Jika kalah wajar kecewa tapi tak perlu mencari kambing hitam, kita evaluasi bersama. Tidak bisa para pemain memilih sendiri pelatihnya,” tutur Limbong.

Rencananya, PSSI akan memanggil para pemain Timnas yang telah menemui Riedl. Limbong akan meminta keterangan dari Bambang Pamungkas dan kawan-kawan untuk mengklarifikasi pertemuan tersebut.

"Para pemain yang menemui Riedl akan kami panggil," kata Limbong di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Jumat 9 September 2011.

Limbong mengakui tidak ada larangan di PSSI bagi pemain Timnas untuk melakukan pertemuan demi menjalin silaturahmi. Meski demikian, menurutnya pertemuan yang digelar sehari setelah Timnas dipukul 0-2 oleh Bahrain, tidaklah tepat. "Secara substansi, bertemu Riedl tanpa sepengetahuan PSSI itu salah. Memang silaturahmi tidak apa-apa, tadi tidak dalam waktu ini."

"Setelah bertemu Riedl, ada penolakan terhadap Wim, tapi ini baru isu. Saya selaku Ketua Komite Displin menanyakan apa substansi pertemuan itu. Kami risih kalau Riedl menemui pemain dalam kondisi seperti ini," kata pria yang pernah menjadi anak buah mantan KSAD, Jenderal (purn) George Toisutta dan anggota tim sukses George dan pengusaha-politisi Arifin Panigoro di Kongres PSSI lalu.

Uniknya, Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin justru tidak tahu mengenai kebenaran kabar pertemuan ini. "Saya tidak tahu apakah berita itu benar atau tidak," ujar Djohar kepada wartawan saat ditemui di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Jumat 9 September 2011.

Yang jelas, kisruh di Timnas semakin menambah kekacauan di era kepengurusan PSSI yang baru. Perubahan kompetisi menjadi dua kasta yang diikuti 32 tim di kasta teratas dan dua wilayah tentu saja akan mengubah peta sepakbola nasional.

PSSI awalnya berjanji takkan memasukkan tim-tim Liga Primer Indonesia (LPI) dalam kompetisi nasional. Namun, belakangan PSSI memaksakan rencana merger antara klub-klub LPI dan calon peserta Liga Indonesia. Tentu saja, ini dilakukan PSSI untuk mengakomodasi tim-tim LPI bentukan Arifin Panigoro.

Dari jajaran manajemen Liga ini pun dikuasai orang-orang LPI, dari CEO sampai Ketua Komite Bidang Kompetisi. Seperti halnya di Timnas, dimana ada Manajer, Penanggungjawab dan Koordinator yang dijabat oleh tiga orang berbeda. Jabatan itu pun jadi tumpang tindih. Apalagi, ketika tiga orang ini tak satu suara.

Sedikit banyak, berbagai masalah di atas mempengaruhi Timnas. Dan hasilnya sudah bisa ditebak: semuanya kacau. Kisruh! (sj)

• VIVAnews