Rabu, 30 November 2011

Alasan Beckham Tukar Seragam dengan Andik

Alasan Beckham Tukar Seragam dengan Andik

Oktovianus Maniani dan Hamka Hamzah menjadi korban penolakan Beckham.

Kamis, 1 Desember 2011, 04:48 WIB
Haryanto Tri Wibowo, Jonathan Pandapotan

VIVAnews - David Beckham membeberkan alasannya memilih bertukar seragam dengan Andik Vermansyah. Beckham juga terkesan dengan permainan Andik saat Los Angeles Galaxy mengalahkan Timnas Indonesia Selection 1-0, Rabu 30 November 2011.

Usai LA Galaxy mengalahkan Indonesia Selection di Stadion Utama Gelora Bung Karno, sejumlah pemain Indonesia berusaha menukar seragam dengan Beckham. Oktovianus Maniani dan Hamka Hamzah menjadi korban penolakan Beckham bertukar seragam di pertandingan tersebut.

Pada akhirnya Beckham memilih bertukar seragam dengan Andik. Bahkan mantan pemain Real Madrid dan Manchester United itu memanggil sendiri Andik untuk bertukar seragam. Apa alasan Beckham?

Ternyata gelandang 36 tahun tersebut merasa tidak enak dengan Andik setelah sempat melakukan tekel keras terhadap pemain Persebaya tersebut di pertandingan. Beckham juga mengaku terkesan dengan permainan Andik.

"Saya merasa tidak enak tadi menendang dia (Andik). Dia pemain yang sangat bertalenta. Jadi, saya menginginkan seragamnya," ujar Beckham dalam jumpa pers usai pertandingan.

• VIVAnews

Jumat, 25 November 2011

Wawancara Titus 'Tibo' Bonai 'Saya Selalu Siap untuk Indonesia'

'Saya Selalu Siap untuk Indonesia'

Tibo mengungkapkan kecintaannya kepada Timnas Indonesia, karir dan Papua.

Jum'at, 25 November 2011, 05:14 WIB
Edwan Ruriansyah, Ali Usman

VIVAnews - Titus Jhon Londouw Bonai atau akrab dipanggil Tibo menjadi salah satu magnet tim nasional Indonesia U-23 besutan Rahmad Darmawan di ajang SEA Games 2011.

Pemain Persipura Jayapura yang selalu menjadi starter di tiap pertandingan tersebut kini tak hanya dielu-elukan suporter Indonesia. Nama besarnya mulai dilirik masyarakat sepakbola Asia meski Indonesia gagal meraih medali emas.

Usai pertandingan final melawan Malaysia, Tibo menjadi pemain yang paling terlihat kelelahan. Tidak seperti biasanya, usai pertandingan, Tibo langsung berjalan ke arah bus yang membawa rombongan Timnas ke hotel, tanpa mau berbicara banyak kepada media yang menunggu di mixed zone Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Tibo tertunduk lesu bersama rekan setimnya yang lain. Karena Indonesia harus puas menelan kekalahan dari Malaysia lewat drama adu penalti.

Kini, mantan pemain Bontang FC dan Persiram Raja Ampat tersebut sudah bisa tersenyum kembali. Didampingi istri tercintanya, Novalia, Tibo kerap melempar senyuman kepada suporter yang menyapa dan meminta tanda tangannya.

Kepada VIVAnews, Tibo yang biasanya pendiam tampak ramah meladeni semua pertanyaan. Tibo mengungkapkan kecintaannya kepada Timnas Indonesia, karir dan Papua yang sedang bergolak. Berikut petikan wawancara VIVAnews dengan Titus Bonai di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta.

Tibo, Anda salah satu bintang Timnas U-23 di ajang SEA Games kali ini. Apakah menjadi pemain sepakbola memang menjadi cita-cita Anda?

Waktu kecil memang cita-cita saya menjadi pemain sepakbola. Sejak kecil saya juga sudah bermain bola. Dengan kakak-kakak saya, dengan teman yang lebih senior di Jayapura. Sebetulnya waktu kecil saya juga tidak hanya bermain bola, tapi juga atletik. Saya sering ikut perlombaan semacam itu. Tapi, memang kecintaan kepada sepakbola membuat saya sejak kecil komitmen untuk bermain bola.

Bagaimana cerita Anda bisa menjadi pemain sepakbola?

Sebetulnya saya lahir dari keluarga sepakbola. Bapak saya seorang pemain bola. Kakak saya dan saya sendiri akhirnya terjun jadi pemain sepakbola. Dan mudah-mudahan adik saya juga bisa sukses di sepakbola. Adik saya yang terakhir juga dikaruniai bakat main bola.

Saya bersyukur pada Tuhan Yesus, karena telah memberikan saya talenta yang sungguh sangat luar biasa. Itu yang kemudian membawa saya sampai ke Timnas. Dengan bakat dari Tuhan ini, saya berjanji akan terus meningkatkan kesempatan. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dari Tuhan. Ini satu anugerah bagi saya.

Siapakah orang yang menginspirasi Anda menjadi pemain bola?

Yang menginspirasi saya, terutama Bapak dan Mama. Mereka mengenalkan saya pada sepakbola. Selain mereka, tentu saja istri dan anak saya. Mereka yang selalu mendoakan saya.

Siapakah pemain idola Anda?

Kalau pemain Indonesia, saya mengidolakan Kakak Boaz (Solossa, striker Persipura). Kalau dari luar, saya mengidolakan Ronaldo (Luiz Nazario da Lima) yang dari Brasil.

Sebagai orang Papua, apa kesan Anda mampu membela tim nasional Indonesia? Sejauh mana rasa bangga Anda?

Saya tidak pernah memikirkan kebanggaan bagi diri saya sendiri. Saya pribadi selalu siap untuk Indonesia. Jika Timnas masih mau memanggil saya, saya selalu siap, karena itu demi nama besar negara kita. Saya akan total berjuang demi negara dan bangsa.

Tentu menjadi bagian dari timnas membuat saya benar-benar bangga. Dan kebanggaan ini bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi kedua orangtua saya.

Bagaimana Anda melihat kondisi sosial-politik di Papua?

Kalau soal itu, saya tidak terlalu mengikuti. Saya juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Saya lebih banyak memikirkan soal bola, dan tidak banyak juga mengetahui soal itu. Saya sendiri juga ingin tetap fokus ke sepakbola.

Bagaimana tanggapan Anda soal Organisasi Papua Merdeka (OPM), tragedi Freeport dan lain-lain?

Saya tidak terlalu banyak tahu. Meski memang sering mencari informasi dan berita-berita terkait saudara-saudara saya di Papua. Saya dengar dari berita, saya dapat informasi dari media massa, lihat di tv, saya turut berduka cita terhadap meninggalnya saudara-saudara saya di sana. Saya hanya bisa mendoakan mereka.

Apakah pernah membahas soal-soal itu dengan para pemain Papua lain yang berada di Timnas?

Ya, kami sering membicarakan, sering membahas. Tapi, kami hanya bisa saling mendoakan saja. Semoga jangan ada lagi persoalan di sana.

Bagaimanakah komentar Anda tentang para pemain sepakbola dan atlet-atlet Papua lainnya yang berprestasi di ajang SEA Games ini?

Saya melihat mereka juga berprestasi. Punya kemampuan yang sangat luar biasa. Bukan hanya kami di sepakbola, tapi juga di cabang olahraga lain. Mudah-mudahan Pemerintah, PSSI dan lainnya bisa pantau langsung bakat-bakat lain di Papua. Mudah-mudahan mendapatkan atlet berprestasi lebih banyak lagi.

Setujukah Anda jika Papua merdeka dan menjadi negara sendiri?

Hahahahaa.. Kalau saya, saya tidak bisa bicara soal Papua merdeka. Karena saya tidak mau ikut campur soal itu. Saya tidak mau banyak komentar soal itu. (Sambil tersenyum, Tibo meminta pertanyaan soal lain di luar OPM)

Apakah target terbesar Anda sebagai seorang pemain bola?

Target saya tentu pengen menjadi yang terbaik, terutama kemuliaan nama Tuhan. Itu yang pertama.

Lalu apakah target terbesar Anda bagi timnas Indonesia?

Tentu saya sangat mengharapkan sekali bisa bergabung di Timnas, baik U-23, maupun senior. Saya bersama teman-teman lain di U-23 tentu punya target masuk Timnas senior.

Kami siap jika memang ke depan dipanggil bergabung dengan kakak-kakak yang lebih senior untuk bersama-sama membawa nama baik Indonesia. Berbuat yang terbaik, dan membawa Timnas bisa juara di ajang kompetisi apapun. Puji Tuhan jika kemudian bisa ke Piala Dunia.

• VIVAnews

Pires: Wenger Akan Mati Bersama Arsenal

Pires: Wenger Akan Mati Bersama Arsenal

" Ia mirip dengan [Sir Alex] Ferguson di Manchester United atau Guy Roux di Auxerre."

Jum'at, 25 November 2011, 19:41 WIB
Edwan Ruriansyah

VIVAnews - Spekulasi sering menyebut Arsene Wenger akan mengakhiri karier sebagai manajer Arsenal. Tapi, mantan gelandang The Gunners asal Prancis, Robert Pires meyakini Wenger akan bertahan.

Wenger telah menakhodai Arsenal selama 15 tahun. Belakangan, ia mendapatkan kritik akibat start buruk Arsenal musim ini. Meski begitu, Pires yakin itu takkan melunturkan kecintaan kompatriotnya itu kepada Arsenal.

"Saya pikir, ia akan mati bersama Arsenal. Ia mirip dengan [Sir Alex] Ferguson di Manchester United atau Guy Roux di Auxerre. Ia akan bertahan di Arsenal," kata Pires kepada The Telegraph.

"Arsenal membutuhkan dia. Dan dia butuh Arsenal. C'est l'amour [itulah cinta sejati]," lanjut Pires.

Wenger mulai mampu memperbaiki penampilan Arsenal dari start buruk, termasuk saat dibantai 2-8 oleh Manchester United di Old Trafford. Ditambah penampilan on fire Robin van Persie, Pires meyakini The Gunners akan semakin membaik dan kembali ke habitatnya sebagai anggota Big Four.

"Semua kritik mulai mereda dan Arsene kini lebih rileks. Pada Agustus lalu, ia kehilangan tiga pemain penting di klub: [Samir] Nasri, [Gael] Clichy dan [Cesc] Fabregas. Dan itu membuat Wenger sangat syok. Juga bagi fans."

"Setiap klub di Inggris pernah mengalami periode krisis. Dulu Arsenal, kini Chelsea. Saya juga masih ingat, sehari setelah Man United kalah 6-1 dari City, setiap orang bilang United finis. Tapi, itulah sepakbola. Tim-tim besar pasti mendapatkan hujatan besar pula," tutur Pires.

• VIVAnews