Rabu, 17 November 2010

Cerita Lawas Tentang Cinta

Film

10 Nopember 2010 | 12:17 wib
Preview Film Heart 2 Heart

Cerita Lawas Tentang Cinta

image

Suara Merdeka CyberNews. Lagi.Sebuah tema tentang kisah cinta yang diangkat dengan berbagai varian permasalahannya, kembali diangkat ke layar lebar. Kali ini, film Heart 2 Heart yang dibesut Nayato Fio Nuala dan diproduksi PT. Kharisma Starsivion Plus, menbedahkan persoalan cinta, dengan tema lawasnya. Meski bukan persoalan anyar, tapi menonton film yang berangkat dari skenario Tietien Wattimena, seperti belajar memahami persoalan remaja dengan dunianya.

Maklum, sebagai film drama remaja percintaan, sejak mula, film yang diikhtiarkan dapat menarik penonton remaja itu, sesak dengan persoalan remaja. Seperti meminum capuccino, demikian salah satu dialog yang diucapkan dalam film yang akan beredar mulai tanggal 11 november ini, cinta pada masa remaja, hanya enak jika dinikmati pada saat hangat saja.

Menonton film inipun, seperti minum capuccino, nikmat sesaat, setelah itu tidak meninggalkan kesan apa-apa, bagi penonton non remaja. Meski sebenarnya, sebagaimana dipesankan di film ini, ada muatan yang ingin disampaikan kepada penikmatnya. Bahwa cinta, membutuhkan pengorbanan, jika perlu selembar nyawa harus dibayarkan. Klise bukan?

Menyeleweng
Bahwa dalam penyampaiannya, film yang didukung pelakon debutan seperti Aliff Alli, Irish Bella, Arumi Bachsin, Indah Permatasari dan Wulan Guritno itu banyak menyeleweng dari logika bertutur. Dan terlalu berlebihan dari segi pencahayaan -bayangkan suasana hutan yang selalu tertata pencahayaannya, bahkan cenderung terlalu estetis- itulah film Indonesia.

Meski secara keseluruhan, film yang music directornya digarap pasangan suami istri Anto Hoed dan Melly Goeslow itu, mengalir dengan tidak mengecewakan, sebagai sebuah hiburan. Jauh lebih berwibawa dari tema-tema film Indonesia, yang kini mulai gemar kembali kepada persoalan setan-setanan, dan drama komedi yang jauh dari unsur kelucuan. Sebagai dampak frustasinya para produser film, yang ingin mengeruk penonton belaka. Tanpa memedulikan lagi logika bercerita.

Meski sayangnya, Titien yang tercatat bukan kali ini saja menghasilkan sebuah skenario spesialis film drama percintaan, dan Nayato yang acap membesut film bergenre remaja, seperti berhenti tataran kreatifitasnya, pada ruang pertengahan (medioker). Yang belum berhasil menghadirkan sebuah karya yang menginspirasi, apalagi menggetarkan. Sehingga, kisah cinta antara sosok Pandu (Aliff Alli), dan Indah (Irish Bella) tak lebih indah dari kisah cerpen remaja, yang banyak dimuat di tabloid, dan majalah remaja khusus wanita.

(Benny Benke/CN15)

Minggu, 14 November 2010

Portugal Tak Mampu Atasi Tanjung Verde

Portugal Tak Mampu Atasi Tanjung Verde
Negeri berpenduduk lima ratus ribu orang itu berhasil menahan imbang Ronaldo dkk.
Selasa, 25 Mei 2010, 05:35 WIB
Irvan Beka
Cristiano Ronaldo dihadang pemain Tanjung Verde (AP Photo / Armando Franca)

VIVAnews - Tanjung Verde, negeri berpenduduk lima ratus ribu orang, berhasil menahan imbang peserta Piala Dunia, Portugal. Pada laga yang digelar di kawasan pegunungan Covilha, Tanjung Verde berbagi angka 0-0 dengan tuan rumah.

Sejak awal pertandingan, Portugal sebenarnya bisa menguasai jalannya pertandingan. Mereka sudah menurunkan tiga penyerang yakni Ronaldo, Nani dan Liedson untuk menekan lawan yang merupakan bekas jajahan Portugal itu. Namun mereka gagal menciptakan satu gol pun.

Saat wasit meniupkan peluit tanda pertandingan berakhir, para pendukung tuan rumah terlihat kecewa. Mereka tidak menyangka hasil seperti ini bisa terjadi hanya 17 hari menjelang Piala Dunia dimulai.

Pada Piala Dunia nanti, Portugal ada di Grup G. Mereka harus bersaing dengan Brasil, Pantai Gading dan Korea Utara.

Susunan Pemain

Portugal:
Eduardo; Carvalho (Ricardo Costa 46'), Ferreira (Miguel 68'), Bruno Alves, Fabio Coentrao, Deco (Danny 57'), Nani, Miguel Veloso (Meireles 46'), Mendes (Tiago 57'), C.Ronaldo, Liedson (Almeida 46')

Tanjung Verde: Fock; Ricardo Silva, Neves, Tavares, Varela, Marco Soares, Valter Borges (Moreno 68'), Babanco (Nhuck 58'), Furtado, Lito (Toni Varela 72'), Dady (Semedo 25', Tavares Ton 90')

• VIVAnews

Ronaldo: Ferguson Pelatih Terbaik di Dunia

Ronaldo: Ferguson Pelatih Terbaik di Dunia
"Keduanya berpengalaman dan memenangkan segalanya."
Minggu, 14 November 2010, 19:23 WIB
Toto Pribadi
Cristiano Ronaldo dan Sir Alex Ferguson (www.goal.com)

VIVAnews - Cristiano Ronaldo sepertinya masih menempatkan manajer Manchester United Sir Alex Ferguson sebagai pelatih idolanya. Winger Real Madrid ini masih yakin Fergie sebagai pelatih terbaik di dunia.

Sebelum hijrah ke Real Madrid, Ronaldo memang menjadi salah satu pemain kesayangan Ferguson. Kolaborasi Ferguson dan Ronaldo telah menuai banyak trofi buat Iblis Merah.

Kenangan indah CR7 di Old Trafford sepertinya masih sulit dilupakan. Bahkan saat disinggung mengenai siapa yang terbaik antara Ferguson dengan pelatihnya di Madrid, Jose Mourinho, ia masih memilih nama Fergie.

"Dalam berbagai hal, mereka keduanya sama. Keduanya berpengalaman dan memenangkan segalanya. Perbedaannya hanya karena salah satunya lebih tua dari yang satunya lagi," ujar Ronaldo.

Ronaldo juga mengakui jika hubungannya dengan Ferguson masih terjalin baik hingga saat ini. Meski Ferguson mungkin telah tersakiti dengan kepindahannya, namun Ronaldo tetap menempatkan Fergie sebagai sahabatnya.

"Saya senang bekerja dengan Sir Alex dan hari ini dia adalah teman saya. Sejauh ini, Ferguson adalah pelatih terbaik di dunia," pungkas Ronaldo. (Insidefootball)

• VIVAnews

Dicoret Timnas, Ini Pembelaan Boaz

Dicoret Timnas, Ini Pembelaan Boaz
PSSI tak perhatian saat perawatan Boaz, ibarat pepatah habis manis sepah dibuang.
Minggu, 14 November 2010, 09:14 WIB
Amril Amarullah
Latihan Persipura : Boaz Salosa (ANTARA/Yusran Uccang)

VIVAnews - Boaz Solossa dicoret dari skuat inti timnas proyeksi Piala ASEAN Football Federation (AFF) 2010 lantaran dua kali absen mengikuti pelatihan nasional. Namun, kerelaan sang striker untuk melepas keikutsertaannya membela merah putih itu memperoleh dukungan mantan asisten pelatih Pekan Olah Raga (PON) Papua.

Ferdinando Fairyo, mantan asisten pelatih PON Papua pada Pekan Olahraga XVI, atau PON 2004 yang digelar di Palembang itu memiliki penilaian mengenai pemain asli Papua tersebut.

Menurut dia, Boaz Solossa termasuk tipikal pemain bertalenta khusus tetapi juga sangat didukung oleh rasa ambisius secara mental. Dalam setiap pertandingan dirinya selalu berfokus untuk mencetak gol.

"Namun, dia juga bisa memberikan semangat kepada tim dan berperan sebagai inspirator tim," ujar Fairyo kepada GOAL.com Indonesia di Jayapura, Minggu 14 November 2010.

Dia menambahkan, dalam kondisi cedera pun masih bisa menjadi pemacu semangat bagi rekan-rekannya dalam satu tim. "Kebersamaan dan kekompakan bagi Boaz adalah segala-galanya," ujar Fairyo.

Faktor lain juga yang harus diingat, mantan pelatih Persipura U-21 itu melanjutkan, pemain yang akrab disapa Bochi ini sudah menjadi kapten Pra-PON Papua 2002 dan juga kapten PON Papua 2003.

"Jadi, dalam usia yang sangat muda sudah mampu memimpin rekan-rekannya yang usianya empat tahun di atasnya," kata Fairyo.

Pemain kelahiran Sorong yang sudah menginjak usia 24 tahun ini sekarang lebih banyak mengurusi keluarga dan kedua anaknya. Fairyo menganggap hal itu wajar saja, mengingat Boaz sudah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di kantor Dinas Pemuda dan Olahraga kota Jayapura.

"Kami juga harus realistis sepakbola juga bisa memberikan penghasilan tambahan dan nama besar, tetapi keluarga serta anak-anak harus hidup sehat menjadi semangat bagi setiap pemain," tuturnya.

Menyinggung soal perasaan nasionalisme dan kebanggaan, sebenarnya semua pemain bola pasti merasa bangga membela timnas. "Terkecuali pemain tersebut belum pernah sama sekali membela timnas dan pasti akan berusaha untuk memperkuatnya," papar Fairyo.

Boaz sudah menjalani perjalanan yang cukup panjang membela timnas, sejak 2004 ketika masih berumur 21 tahun. Boaz sendiri mengaku cedera dan patah kaki yang dialaminya bukan karena memperkuat tim Mutiara Hitam tetapi berjuang membela kesebelasan nasional Indonesia.

Boaz sudah dua kali mengalami cedera tulang fibula saat membela timnas dalam ujicoba melawan Hong Kong jelang Piala Asia 2007. Gara-gara cedera yang dia alami, hampir-hampir karier sepakbolanya terputus di tengah jalan.

Beruntung saat Boaz Solossa didera cedera, tim manajemen Mutiara Hitam masih bersedia memberikan perhatian dan membiayai semua ongkos perawatannya. Sedangkan PSSI tak perhatian saat perawatan Bochi, ibarat pepatah habis manis sepah dibuang.

"Aku sudah banyak berkorban di timnas. Bahkan, kakiku patah saat bermain bersama timnas, bukan Persipura," ungkap Boaz.

Kalaupun Boaz ditolak masuk timnas, tak jadi soal sebab dia tetap bermain dan menjadi kapten Persipura. Bersama skuad Mutiara Hitam, dia bisa bermain dengan tenang mengurusi keluarganya dan bekerja sembari menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih di Jayapura.

Fairyo menambahkan, sepakbola memang banyak memberikan keuntungan materi dan nama besar. Tetapi di Indonesia olahraga ini nasibnya sangat berbeda dengan negara maju di Eropa. Tidak semua pemain akan menggantungkan hidupnya dalam sepakbola, termasuk Boaz Solossa. (art)

• VIVAnews