Film
Preview Film Heart 2 Heart
Cerita Lawas Tentang Cinta
Suara Merdeka CyberNews. Lagi.Sebuah tema tentang kisah cinta yang diangkat dengan berbagai varian permasalahannya, kembali diangkat ke layar lebar. Kali ini, film Heart 2 Heart yang dibesut Nayato Fio Nuala dan diproduksi PT. Kharisma Starsivion Plus, menbedahkan persoalan cinta, dengan tema lawasnya. Meski bukan persoalan anyar, tapi menonton film yang berangkat dari skenario Tietien Wattimena, seperti belajar memahami persoalan remaja dengan dunianya.
Maklum, sebagai film drama remaja percintaan, sejak mula, film yang diikhtiarkan dapat menarik penonton remaja itu, sesak dengan persoalan remaja. Seperti meminum capuccino, demikian salah satu dialog yang diucapkan dalam film yang akan beredar mulai tanggal 11 november ini, cinta pada masa remaja, hanya enak jika dinikmati pada saat hangat saja.
Menonton film inipun, seperti minum capuccino, nikmat sesaat, setelah itu tidak meninggalkan kesan apa-apa, bagi penonton non remaja. Meski sebenarnya, sebagaimana dipesankan di film ini, ada muatan yang ingin disampaikan kepada penikmatnya. Bahwa cinta, membutuhkan pengorbanan, jika perlu selembar nyawa harus dibayarkan. Klise bukan?
Menyeleweng
Bahwa dalam penyampaiannya, film yang didukung pelakon debutan seperti Aliff Alli, Irish Bella, Arumi Bachsin, Indah Permatasari dan Wulan Guritno itu banyak menyeleweng dari logika bertutur. Dan terlalu berlebihan dari segi pencahayaan -bayangkan suasana hutan yang selalu tertata pencahayaannya, bahkan cenderung terlalu estetis- itulah film Indonesia.
Meski secara keseluruhan, film yang music directornya digarap pasangan suami istri Anto Hoed dan Melly Goeslow itu, mengalir dengan tidak mengecewakan, sebagai sebuah hiburan. Jauh lebih berwibawa dari tema-tema film Indonesia, yang kini mulai gemar kembali kepada persoalan setan-setanan, dan drama komedi yang jauh dari unsur kelucuan. Sebagai dampak frustasinya para produser film, yang ingin mengeruk penonton belaka. Tanpa memedulikan lagi logika bercerita.
Meski sayangnya, Titien yang tercatat bukan kali ini saja menghasilkan sebuah skenario spesialis film drama percintaan, dan Nayato yang acap membesut film bergenre remaja, seperti berhenti tataran kreatifitasnya, pada ruang pertengahan (medioker). Yang belum berhasil menghadirkan sebuah karya yang menginspirasi, apalagi menggetarkan. Sehingga, kisah cinta antara sosok Pandu (Aliff Alli), dan Indah (Irish Bella) tak lebih indah dari kisah cerpen remaja, yang banyak dimuat di tabloid, dan majalah remaja khusus wanita.
(Benny Benke/CN15)
untuk para remaja di indonesia jangan gk nntn film ini yaaggg
BalasHapus