Kamis, 19 April 2012

Di Matteo Membawa Chelsea Bangkit

Di Matteo Membawa Chelsea Bangkit
Bersama Di Matteo, Chelsea meraih 10 kemenangan dari 13 pertandingan.
Kamis, 19 April 2012, 17:37 WIB
Nadia Hutami


Roberto Di Matteo (DAYLIFE)

VIVAbola – Meningkatnya permainan Chelsea setelah sempat terseok-seok di awal musim ini membuat banyak pihak kagum. Terakhir, Chelsea membuat dunia sepakbola terpukau lantaran mereka mampu mengalahkan tim terbaik dunia, Barcelona, di semifinal Liga Champions.

Meski baru leg 1, tapi kemenangan Chelsea ini menjadi ajang pembuktian jika klub berbasis di London Barat itu masih bisa berjaya di Eropa. Maklum saja, di awal musim banyak yang menyangsikan The Blues bisa lolos dari babak 16 besar Liga Champions.

Napoli yang menjadi lawan Chelsea di babak 16 besar secara mengejutkan bisa menaklukkan Chelsea dengan skor 1-3. Ketika itu banyak pengamat mengatakan jika musim 2011/12 adalah musim kelabu Chelsea. di Premier League, penampilan Chelsea setali tiga uang, tim yang dimiliki Roman Abramovich itu harus terseok-seok untuk bisa bersaing mendapatkan jatah Liga Champions.

Paham dengan kondisi klub yang semakin memburuk. Abramovich kemudian melakukan langkah yang bisa dibilang ekstrem. Yaitu memecat manajer Andre Villas-Boas (AVB) yang digadang-gadangkan bisa membawa Chelsea menjuarai Liga Champions.

Era Di Matteo


Abramovich pun menunjuk Roberto Di Matteo sebagai Manajer Interim (sementara) Chelsea sampai akhir musim.

Tentunya banyak menyangsikan apakah pelatih kelahiran Swiss ini mampu membangkitkan Chelsea dari keterpurukan? Ujian pertama Di Matteo adalah meloloskan Chelsea ke babak selanjutnya di ajang Piala FA. Saat masih bersama AVB, mereka hanya mampu bermain imbang dengan tim Divisi I Birmingham City. Hasilnya, Chelsea menang 2-0 lewat gol Juan mata dan Raul Meireles.

Tiga hari kemudian, Di Matteo memimpin pertandingan Premier League pertamanya untuk Chelsea. meski harus susah payah mengalahkan Stoke City 1-0, tapi kemenangan ini membuat kepercayaan diri pemain semakin meningkat.

Tapi ujian sesungguhnya untuk Di Matteo dan pasukannya adalah pertandingan melawan Napoli di laga leg 2 babak 16 besar Liga Champions. Di leg 1, Chelsea dibuat tidak berdaya oleh Marek Hamsik dan kawan-kawan. John Terry dan kawan-kawan harus unggul setidaknya selisih minimal dua gol untuk lolos ke perempat final. Hasilnya sama sekali tidak terduga, bukan hanya mencetak dua gol tapi empat gol dilesakkan Chelsea ke gawang Napoli. Chelsea pun telah bangkit.

Taktik Di Matteo terbukti berhasil. Yang paling penting ia bisa meramu pemain muda dengan pemain tua seperti Didier Drogba dan Frank Lampard yang di era AVB sepertinya sudah hilang sentuhan. Padahal sebelumnya banyak yang menyangsikan jika pemain-pemain veteran seperti Drogba, Michael Essien dan Lampard mampu tampil sempurna di tengah-tengah padatnya jadwal Chelsea.

“Opini publik kepada para pemain veteran ini sempat menyakitkan. Mereka dianggap tak mampu lagi bermain 2 kali sepekan. Bukan hanya Didier yang disebut sebagai prajurit tua. Tapi, mereka telah menjawabnya di lapangan," kata Di Matteo kepada Express.

Faktor mantan pemain

Lalu apa yang membuat Chelsea tampak superior di tangan Di Matteo sehingga mampu mengalahkan Barcelona? Jika Sebelumnya banyak pemain yang tidak mendengarkan perintah-perintah Villas-Boas. Kini semua pemain Chelsea kompak mengikuti arahan sang pelatih. Termasuk ketika Chelsea mengalahkan Barcelona 1-0. Ia membuat Chelsea kembali bersatu.

“Kami semua tampil gemilang sepanjang pertandingan. Semua pemain bertekad untuk bertahan dan membantu satu sama lain. Kami memang mendapatkan sedikit keberuntungan tapi semuanya bermain sesuai dengan permintaan pelatih,” ujar kiper Petr Cech.

Di Matteo juga menerapkan taktik bertahan ala catenaccio sepakbola Italia. Terbukti, sejak dilatih dirinya Chelsea jarang sekali bermain terbuka seperti era AVB.

Terlepas dari sepakbola negatif yang dimainkan Chelsea saat menghadapi Barca, tangan dingin Di Matteo mampu mengalahkan Barca yang sangat superior di Liga Champions.

Faktor Di Matteo sebagai mantan pemain favorit Chelsea membuatnya lebih dihormati para pemain senior. Apalagi Di Matteo melakukan pendekatan ke semua pemain dengan berjanji akan memainkan semua pemain tanpa terkecuali.

Tidak seperti AVB yang terang-terangan mengkritik pemain-pemainnya, Di Matteo justru mendukung penuh semua pemainnya, termasuk Florent Malouda dan Salomon Kalou yang diasingkan ketika AVB masih menjabat sebagai manajer Chelsea.

Fernando Torres yang karirnya dianggap sudah habis, di bawah kepelatihan Di Matteo, ia seperti menemukan permainannya kembali. Torres mencetak dua gol saat Chelsea menaklukan Leicester City serta satu gol di Premier League ketika Chelsea mengalahkan Aston Villa 4-2.

"Ini sederhana saja, tidak terlalu rumit. Ini adalah bagaimana caranya mendapatkan kembali kepercayaan diri di dalam tim. Dilihat dari hasil secara mayoritas, Di Matteo berhasil melakukan itu," kata Lampard.

Lalu apakah Di Matteo mampu membawa Chelsea menjuarai trofi Liga Champions. Trofi yang selalu diinginkan pemilik klub, pemain bahkan penggemar The Blues. Trofi yang tidak bisa didapatkan Jose ‘The Special’ Mourinho ketika masih menjadi manajer Chelsea. Kita lihat saja nanti di leg 2 yang akan berlangsung di Camp Nou, Selasa 24 April 2012 (Rabu dini hari WIB).


• VIVAbola

Tidak ada komentar:

Posting Komentar